4 Alasan Anak Design Suka Ngopi

4 Alasan Anak Design Suka Ngopi

Bagi para profesional di bidang desain dan industri kreatif, kopi bukan sekadar minuman penghalau kantuk, melainkan elemen esensial yang sudah menyatu dalam kultur kerja sehari-hari. Saking mendarah dagingnya, bagi banyak desainer, meneguk secangkir kopi sudah terasa seperti minum air putih, sebuah rutinitas wajib yang dilakukan tanpa pikir panjang demi menjaga aliran inspirasi tetap lancar. Di dalam skena anak desain sendiri, kopi telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar "rekan setia" saat begadang mengejar deadline; ia adalah bahan obrolan yang tak pernah habis dibahas, menjadi jembatan komunikasi yang cair bagi para desainer muda yang baru meniti karier hingga para senior yang sudah makan asam garam di industri kreatif. Berikut 4 alasan anak design suka ngopi

1. Sumber Kreatifitas

Kopi sebagai sumber kreatifitas

Sebuah studi dari University of Arkansas (2020) yang diterbitkan dalam jurnal Consciousness and Cognition menemukan bahwa kafein secara signifikan meningkatkan berpikir konvergen. Dimanan berpikir konvergen Ini adalah kemampuan otak untuk fokus memecahkan masalah dan menemukan satu solusi terbaik (seperti: saat Arsitek melakukan finishing design fasad bangunan).  Hasilnya kafein membantu designer mengeksekusi ide dengan lebih tajam, meskipun tidak secara signifikan meningkatkan berpikir divergen (brainstorming ide liar). Sumber : Jurnal University of Arkansas

2. Anti Ngantuk Ketika Deadline

Kopi sebagai doping anti ngatuk

Yes kopi Adalah senjata ampuh Ketika rasa kantuk datang. Pekerjaan design yang sering berlangsung lama bahkan sampai lembur memang membutuhkan tenaga tambahan salah satunya bisa melalui kopi. Secara medis kopi dapat menahan kantuk sebagai Antagonis Reseptor Adenosin yaitu dengan menipu otak agar tidak merasa lelah, Cara Kerjanya yaitu Di dalam otak kita ada molekul bernama Adenosin. Sepanjang kita beraktivitas, Adenosin ini menumpuk dan menempel pada reseptornya untuk memberi sinyal "Woi, tubuh sudah capek, ayo tidur!". Dikarenakan struktur kimia kafein sangat mirip dengan Adenosin. Kafein akan "menyerobot" dan menempel di reseptor tersebut, sehingga Adenosin asli tidak bisa masuk. Hasilnya? Otak tidak menerima sinyal kantuk sama sekali (Sumber : Pubmed)

3. Biar Lebih Santai

Ngopi biar lebih santai

Kopi mengandung kafein yang bekerja sebagai stimulan sistem saraf pusat. Secara ilmiah, kafein tidak secara langsung "menciptakan" dopamin, melainkan menghambat reseptor adenosin (zat yang membuat kita merasa mengantuk), yang kemudian memicu peningkatan sensitivitas dan ketersediaan dopamin di otak. Di mana domapin merupakan hormon yang dapat memicu perasaan tenang dan bahagia. (Sumber : The Journal of Neuroscience)

4. Pencair Suasana Ketika Diskusi

Ngopi supaya suasana santai

Kehadiran secangkir kopi sering kali menjadi katalisator paling ampuh dalam mencairkan kekakuan, baik saat Anda tengah membedah konsep desain yang kompleks bersama tim maupun ketika melakukan brainstorming intens untuk menyelaraskan ekspektasi dengan klien. Lebih dari sekadar asupan kafein, ritual menyesap kopi menciptakan ruang jeda yang memungkinkan ide-ide kreatif mengalir lebih organik dan mereduksi tensi formalitas yang terkadang menghambat munculnya gagasan segar. Bahkan di tengah diskusi ringan saat makan siang, aroma kopi yang hangat mampu membangun frekuensi yang sama antar lawan bicara, mengubah atmosfer yang semula formal menjadi lebih inklusif dan akrab. Bahkan tidak jarang deal project besar juga dilakukan sambil ngopi.

Temukan Notes kopi favorit kamu di Database Kurator Kopi